<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>موقع أبي محمد العصري</title>
	<atom:link href="http://al-ashree.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://al-ashree.com</link>
	<description>Situs seorang penuntut ilmu. Mudah-mudahan bermanfaat.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 14:11:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Umat yang Jujur</title>
		<link>http://al-ashree.com/artikel/umat-yang-jujur/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/artikel/umat-yang-jujur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 14:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi* Di dalam Shahih-nya, Imam Muslim rahimahullah membawakan hadits-hadits yang menganjurkan kejujuran kepada umat Islam. Bahkan, kejujuran menjadi ciri kesempurnaan iman seseorang. Oleh sebab itu hadits-hadits tersebut dibawakan oleh Imam Muslim di dalam pembahasan (kitab) Iman. Berikut ini, salah satu hadits yang beliau bawakan -beserta sanadnya- semoga bisa menjadi pelajaran berharga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi*</p>
<p>Di dalam <em>Shahih</em>-nya, <strong>Imam Muslim</strong> <em>rahimahullah</em> membawakan hadits-hadits yang menganjurkan kejujuran kepada umat Islam.  Bahkan, kejujuran menjadi ciri kesempurnaan iman seseorang. Oleh sebab  itu hadits-hadits tersebut dibawakan oleh Imam Muslim di dalam  pembahasan (kitab) Iman.</p>
<p>Berikut ini, salah satu hadits  yang beliau bawakan -beserta sanadnya- semoga bisa menjadi pelajaran  berharga bagi kita semua. Imam Muslim berkata:</p>
<p><strong>Yahya bin Ayyub</strong>, <strong>Qutaibah</strong>, dan <strong>Ibnu Hujr</strong> -mereka semua- menuturkan hadits kepadaku dari <strong>Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far</strong>. <strong>Ibnu Ayyub</strong> berkata: <strong>Isma&#8217;il</strong> menuturkan kepada kami. [dia berkata] <strong>al-&#8217;Alaa&#8217;</strong> mengabarkan kepadaku dari <strong>bapaknya</strong>. Dari <strong>Abu Hurairah</strong> -<em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>-: <span id="more-439"></span></p>
<blockquote><p>[Suatu saat] Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melewati sebuah tumpukan makanan -yang dijual- kemudian beliau  memasukkan tangannya ke dalamnya. Ternyata jari-jari beliau menemukan  ada makanan yang  basah.</p>
<p>Beliau bersabda, <em>“Apa gerangan ini wahai penjual makanan?”</em>.</p>
<p>Dia menjawab, <em>“Ia terkena hujan ya Rasulullah.”</em></p>
<p>Beliau bersabda, <em>“Mengapa  kamu tidak menaruhnya di atas tumpukan makanan itu sehingga orang-orang  [konsumen] bisa melihatnya? Barangsiapa yang menipu maka dia bukan  termasuk golonganku.” </em></p></blockquote>
<p><em> </em>(<em>Syarh Nawawi</em> [2/178] cet. Dar Ibn al-Haitsam, Kairo)</p>
<ul>
<li><em>Ghisyy</em> atau menipu merupakan perbuatan yang bertentangan dengan sikap  menasehati dan keinginan baik kepada orang lain. Orang yang membersihkan  ucapannya dari dusta dan penipuan diserupakan dengan orang yang  membersihkan madu dari kotoran yang mencampurinya (lihat <em>Syarh Nawawi</em> [2/116], <em>ad-Dibaj &#8216;ala Shahih al-Muslim</em> [1/73] karya Imam as-Suyuthi).</li>
</ul>
<p>Seorang  pedagang muslim hendaknya secara jujur menerangkan kondisi barang  dagangannya dan tidak menyembunyikan cacat barang tersebut dari  konsumen. Perdagangan yang dibangun di atas sikap jujur semacam inilah  yang akan mendapat keberkahan dari Allah. Inilah keindahan ajaran Islam.</p>
<p>Dari Hakim bin Hizam <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em> </em></p>
<blockquote><p><em>“Penjual  dan pembeli memiliki hak memilih (khiyar) selama mereka berdua belum  berpisah. Apabila mereka berdua bersikap jujur dan mau menerangkan -apa  adanya- niscaya jual-beli mereka berdua akan diberkahi. Akan tetapi  apabila mereka berdua berdusta/menipu dan menyembunyikan [cacat  barangnya], maka akan dicabut keberkahan jual-beli mereka berdua.”</em></p></blockquote>
<p>(<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, Lihat <em>Bahjat al-Qulub al-Abrar</em>, hal. 117-118 karya Syaikh as-Sa&#8217;di)</p>
<p>Oleh  sebab ituو alangkah bijaknya para pedagang yang berusaha meneliti dan  mengawasi keadaan barang dagangannya. Apabila ternyata barang  dagangannya itu sudah kadaluarsa (<em>expired</em>), hendaklah dia  menarik barang tersebut. Bukan justru mengobral barang tersebut  -meskipun dengan harga murah- kepada konsumen. Apalagi, jika barang  tersebut hendak disalurkan bagi para korban bencana [?!].</p>
<p>Dimanakah  kejujuran itu&#8230;, wahai para pedagang? Tegakah kalian, jika  barang/makanan yang sudah kadaluarsa dibeli dan dikonsumsi oleh  anak-istri kalian, kemudian mereka teracuni olehnya?</p>
<p>Kejujuran.  Tidak hanya dibutuhkan oleh pedagang. Kejujuran itu dibutuhkan oleh  setiap orang yang menginginkan kebaikan diri dan agamanya. Seorang da&#8217;i,  penuntut ilmu, pengajar, guru, penulis, teman, karyawan, pemimpin,  pejabat, ibu rumah tangga, bahkan seorang tukang becak sekalipun. Umat  Islam adalah umat yang menjunjung tinggi kejujuran. Tidak sebagaimana  kaum Syi&#8217;ah yang menjadikan <em>taqiyyah</em> (penipuan) sebagai bagian dari agama mereka!! <em>Allahul musta&#8217;aan</em>&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>* <em>dari catatan Facebook beliau</em></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/artikel/umat-yang-jujur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Inilah Jalan Itu &#8230;</title>
		<link>http://al-ashree.com/artikel/ternyata-inilah-jalan-itu/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/artikel/ternyata-inilah-jalan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 22:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah ar-Rahman ar-Rahim Seorang muslim senantiasa haus akan bimbingan dan panduan Rabb-nya. Oleh sebab itu setiap hari dia memohon curahan petunjuk dalam doanya, &#8216;Ihdinash shirathal mustaqim&#8217;. Tidak cukup sekali dalam sehari, bahkan sampai tujuh belas kali minimal dia mengucapkan doa ini&#8230; *** Saudaraku, perjalanan hidup ini selalu menghadapi tantangan dan cobaan. Apabila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p><em>Dengan menyebut nama Allah ar-Rahman ar-Rahim</em></p>
<p>Seorang  muslim senantiasa haus akan bimbingan dan panduan Rabb-nya. Oleh sebab  itu setiap hari dia memohon curahan petunjuk dalam doanya, <em>&#8216;Ihdinash shirathal mustaqim&#8217;</em>. Tidak cukup sekali dalam sehari, bahkan sampai tujuh belas kali minimal dia mengucapkan doa ini&#8230;</p>
<p>***<span id="more-436"></span></p>
<p><em>Saudaraku</em>,  perjalanan hidup ini selalu menghadapi tantangan dan cobaan. Apabila  seorang muslim tidak membekali dirinya dengan ketakwaan dan keimanan,  niscaya gelombang kerusakan lambat laun akan menyeretnya menuju  kehancuran. Tatkala sedemikian besar kebutuhan kita kepada hidayah, maka  Allah menuntun kita untuk terus berdoa dan meminta kepada-Nya hidayah  itu. Agar kita tidak salah jalan.</p>
<p>Bukankah, selama ini  kita sering mencoba dan bereksperimen dengan jalan dan cara yang kita  anggap lurus, padahal senyatanya jalan itu bengkok dan menyesatkan.  Begitulah setan dengan seribu satu cara berusaha menghias-hiasi jalan  kebatilan agar tampak indah dan menawan. Amalan buruk tampak sebagai  sebuah kebaikan.</p>
<p>Siapa yang mengatakan bahwa orang mukmin bebas cobaan dan tekanan? Padahal Allah <em>ta&#8217;ala</em> telah menyatakan dengan tegas (yang artinya), <em>&#8220;Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan mengatakan &#8216;kami beriman&#8217; kemudian mereka tidak mendapatkan ujian?&#8221;</em> (<strong>QS. al-Ankabut: 1-2</strong>)</p>
<p>Musibah dan bencana, nikmat dan kesenangan, semua itu adalah cobaan bagi kaum yang beriman. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sungguh  mengagumkan urusan orang beriman. Semua urusannya baik baginya. Dan hal  itu tidak didapati kecuali pada diri orang beriman. Apabila dia  mendapat kesenangan maka dia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan  apabila dia mendapat musibah dia pun bersabar, maka itu pun baik  untuknya.&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Dapatkah  seorang muslim bersabar ketika tertimpa musibah kalau tanpa hidayah dan  taufik dari Allah? Bisakah seorang hamba mensyukuri nikmat Allah kalau  tidak dengan petunjuk dan pertolongan dari-Nya? Tentu saja mustahil&#8230;</p>
<p>Jalan  hidayah adalah jalan yang sangat dirindukan oleh setiap pencari  kebenaran. Karena jalan itulah yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan  dan keselamatan dunia dan akhirat. Namun, sebagaimana kata ulama salaf,  <em>&#8220;Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak berhasil menggapainya.&#8221;</em></p>
<p>Nikmat  hidayah bukan barang sepele. Dia tidak diukur dengan gelar, titel,  sekolah, garis keturunan, atau atribut organisasi dan apalagi jabatan.  Seandainya hidayah itu distandarkan dengan gelar akademis niscaya semua  profesor adalah orang-orang yang paling mendapatkan hidayah dan paling  lurus jalannya di muka bumi ini. Namun, kenyataannya tidaklah demikian?  Karena ukuran kemuliaan di dalam perspektif Islam adalah dengan  ketakwaan dan keteguhan menjalankan ajaran al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya  Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang dengan sebab Kitab  [al-Qur'an] ini, dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan sebab  Kitab ini pula.&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga menegaskan, <em>&#8220;Sesungguhnya tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, akan tetapi Allah melihat hati dan amalan kalian.&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>)</p>
<p>Maka  sudah menjadi tugas dan kebutuhan setiap insan untuk bersungguh-sungguh  menempuh jalan menuju keridhaan ar-Rahman. Kesungguhan dalam menempa  diri agar bertakwa dan terus konsisten dengan ajaran al-Qur&#8217;an. Tidak  silau dengan dunia. Tidak rela menggadaikan akidahnya. Tidak tegiur  dengan kenikmatan semu dan sementara. Dia akan selalu ingat bahwa setiap  jengkal waktu yang dilaluinya adalah kesempatan untuk bercocok tanam di  ladang pahala atau melemparkan diri ke lembah dosa.</p>
<p><em>Saudaraku</em>&#8230;  Teruslah melangkah&#8230; Tidak usah khawatir dengan sedikitnya peniti  jalan ini di masamu. Karena di depan sana, barisan para ulama terdahulu  dan generasi terbaik umat ini telah menanti kehadiran para pemuda dan  sosok pejuang kebenaran yang melanjutkan estafet perjuangan mereka. Imam  al-Auza&#8217;i <em>rahimahullah</em> berpesan, <em>&#8220;Hendaknya engkau terus  mengikuti jejak orang-orang yang terdahulu (salafus shalih), meskipun  orang-orang menolakmu. Dan berhati-hatilah dari pendapat-pendapat akal  manusia, walaupun mereka berusaha menghias-hiasinya dengan ucapan yang  indah.&#8221; </em>(lihat <em>Lum&#8217;at al-I&#8217;tiqad</em>)</p>
<p>Apakah  kecintaan kita kepada para sahabat nabi dan ulama salaf dinilai sebuah  fanatisme golongan? Manakah yang lebih layak disebut sebagai fanatisme  golongan; orang yang mengikuti wahyu al-Qur&#8217;an dan as-Sunnah dengan  pemahaman para sahabat, ataukah orang yang mempolitisir ayat dan hadits  demi mengunggulkan pendapat dan pandangan tokoh-tokohnya? Apakah  keteguhan para ulama dalam membela Sunnah/hadits juga dianggap sebagai  sikap fanatik buta yang layak untuk dicemooh dan diremehkan begitu saja?</p>
<p>Padahal, Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> telah menegaskan, <em>&#8220;Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.&#8221; </em>Imam Syafi&#8217;i <em>rahimahullah</em> juga mengatakan, <em>&#8220;Kaum  muslimin telah sepakat, barangsiapa yang telah jelas baginya suatu  Sunnah/ajaran Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka tidak halal  baginya meninggalkannya karena mengikuti pendapat seseorang.&#8221;</em> (lihat Mukadimah <em>Sifat Sholat Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> oleh Syaikh al-Albani <em>rahimahullah</em>)</p>
<p>Bukankah  di zaman ini kita telah menjumpai para penolak hadits dan penentang  Sunnah? Apakah mereka yang menolak hadits dan menentang Sunnah ini yang  dimaksud dengan pembaharu dan pejuang umat?! Pantaskah syari&#8217;at  diinjak-injak demi kepentingan politik sesaat? Benarkah yang mereka  bangun itu istana kemenangan atau justru sebaliknya gubuk derita yang  akan roboh seketika akibat tiupan angin yang menerpanya&#8230;?</p>
<p>Apakah  orang-orang yang membantai manusia, menghalalkan darah kaum muslimin  dan menghancurkan berbagai fasilitas negara layak digelari sebagai  pahlawan dan syuhada? Bukankah menyingkirkan gangguan dari jalan adalah  bagian dari keimanan? Apakah mereka yang mencaci-maki pemimpin itu  pernah mendoakan kebaikan bagi penguasa mereka? Padahal, Imam  al-Barbahari <em>rahimahullah</em> menegaskan, <em>&#8220;Apabila kamu melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut Sunnah&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Memang, Sunnah di zaman ini sedang mengalami keterasingan. Berbahagialah anda, wahai para pengikut Sunnah! Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Islam  itu datang dalam keadaan asing, dan ia akan kembali menjadi asing  sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.&#8221;</em> (<strong>HR. Muslim</strong>). Imam Malik <em>rahimahullah</em> berkata, <em>&#8220;Sunnah  itu adalah bahtera Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat  dan barangsiapa yang tertinggal darinya pasti tenggelam.&#8221;</em></p>
<p>Namun,  ingatlah&#8230; Tidak setiap orang yang mengakui pengikut Sunnah itu bisa  diterima pengakuannya. Semua orang bisa mengklaim, akan tetapi realita  yang akan berbicara: Siapakah sesungguhnya pengikut Sunnah itu? Sebab  yang menjadi ukuran adalah hakikat, bukan nama atau julukan semata&#8230;</p>
<p>Seorang penyair berkata:</p>
<p><em>Semua orang mengaku punya hubungan dengan Laila</em></p>
<p><em>Sementara Laila tidak mengakui ucapan mereka </em></p>
<p>Semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan-Nya yang lurus, dan menyelamatkan kita dari jalan-jalan yang menyimpang. <em>Allahul musta&#8217;aan</em>.</p>
<p>=========</p>
<blockquote><p>dikutip dari catatan facebook akh <strong>Abu Mushlih Ari Wahyudi</strong></p></blockquote>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/artikel/ternyata-inilah-jalan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abdurrahman Farikh: Balita Umur Tiga Tahun yang Sudah Hafal Al-Qur&#8217;an 30 Juz</title>
		<link>http://al-ashree.com/anak-anak/abdurrahman-farikh/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/anak-anak/abdurrahman-farikh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 06:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak-Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bacaan Anak Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Lagi mainan di kursi ini ceritanya  &#8211; اللهم بارك فيه وفى جميع أولاد المسلمين &#8211; ^^ Semoga orang tua kaum muslimin semakin semangat untuk mendidik putra-putrinya agar bisa mencetak generasi muda penghafal Al-Qur&#8217;an. اللهم آمين]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Lagi mainan di kursi ini ceritanya  &#8211; اللهم بارك فيه وفى جميع أولاد المسلمين &#8211; ^^</p>
<div style="text-align: center;"><object id="player" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><param name="flashvars" value="config=http://www.mashahd.net/fpjs/5d13e8eaf3276fec6769?embed=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="AllowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><embed id="player" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="config=http://www.mashahd.net/fpjs/5d13e8eaf3276fec6769?embed=1" data="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf"></embed></object></div>
<p>Semoga orang tua kaum muslimin semakin semangat untuk mendidik putra-putrinya agar bisa mencetak generasi muda penghafal Al-Qur&#8217;an. اللهم آمين</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/anak-anak/abdurrahman-farikh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanya Jawab bersama Syaikh Dr. Sa&#8217;ad bin Nashir Asy-Syitsri tentang KAUST yang Ikhtilath (Video)</title>
		<link>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/kaust-kampus-ikhtilath/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/kaust-kampus-ikhtilath/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 23:17:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Syaikh]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhtilath]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus Ikhtilath]]></category>
		<category><![CDATA[Sa'ad Asy-Syitsri]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[سؤال واجابة الشيخ سعد الشثري حول جامعة الملك عبد الله المختلطة (KAUST / King Abdullah Universitiy of Science and Technology) المتصل أبو سالم من قطر: س- السلام عليكم (وعليكم السلام )كل عام وأنتم بخير عندي سؤال بالنسبة للجامعة التي فتحوها الآن في بلاد الحرمين جامعة الملك عبد الله طبعا كما علمنا وعلم كثير من العلماء [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">سؤال واجابة الشيخ سعد الشثري حول جامعة الملك عبد الله المختلطة</span></h3>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>(KAUST / King Abdullah Universitiy of Science and Technology)</strong></span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">المتصل أبو سالم من قطر:</span></h3>
<h3>س- السلام عليكم (وعليكم السلام )كل عام وأنتم بخير عندي سؤال بالنسبة للجامعة التي فتحوها الآن في بلاد الحرمين جامعة الملك عبد الله طبعا كما علمنا وعلم كثير من العلماء أنها مختلطة ويغلب عليها التوجه العلماني فأتمنى يا شيخ كما عهدنا منكم يا شيخ كلمة تجاه هذه الجامعة وأتمنى من العلماء الذين أكثر كلامهم عن المجاهدين والطعن فيهم فأتمنى أن يقوموا الحجة على ولي الأمر وجزاك الله خير.<br />
<span id="more-427"></span></h3>
<div style="text-align: center;"><object id="player" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><param name="flashvars" value="config=http://www.mashahd.net/fpjs/7cf41b73f73cbf0e62b?embed=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="AllowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><embed id="player" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="config=http://www.mashahd.net/fpjs/7cf41b73f73cbf0e62b?embed=1" data="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf"></embed></object></div>
<h3 style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;">جواب الشيخ</span> :</h3>
<h3>إن جامعة الملك عبدالله يرجى لها الخير وأنه إنما افتتحت من أجل مصلحة هذه الأمة ومن أجل إعادة هذه الأمة على ما كانت عليه سابقا من ريادتها للعلوم قاطبة. والهدف الذي قامت عليه الجامعة وأنشئت من أجله هدف نبيل وكل مسلم يسعى إليه ويرغب في أن يكون سببا من أسباب علو ورفع درجة هذه الأمة ومن أسباب علو هذه الأمة على غيرها من الأمم لذلك فإن الملك عبدالله يشكر على هذه الخطوة المباركة التي لعلها إن شاء الله تكون من أسباب الخير ومن أسباب رفعة درجة الأمة.</h3>
<h3>لكن قد يكون هناك أشياء خفية وتفاصيل غير موافق عليها من قبل ولي الأمر وتكون قد خفيت عليه لذلك فإن الوصية في مثل هذا أن يكون هناك لجان شرعية في مثل هذه الجامعة لتفقد هذه العلوم والنظر فيها والنظر فيما خالف منها الشرع فيبعد لأن ما خالف الشرع فإنه لا يكون صحيحا ولا صوابا ونحن ننظر إلى عدد من العلوم أدخلت فيها نظريات وآراء شاذة غريبة ودرست في هذه العلوم من مثل نظرية التطور والنشأة وغيرها من النظريات, ولذلك فإن الوصية إيجاد لجان شرعية للنظر في هذه الأقسام وهذه الدراسات للنظر في مدى موافقتها للشرع وعدم مخالفتها لأحكامه وبذلك يحصل فوائد عظيمة:</h3>
<h3>من أول هذه الفوائد: إرضاء رب العزة والجلال بجعل تدريس هذه العلوم غير مخالف للشرع وبعدم تمكين من لا يعرف أحكام الشرع من إدخال نظريات وآراء مخالفة للحق ومخالفة للصواب ومخالفة للشرع.</h3>
<h3>وثانيا: أنه يحصل بذلك تحقيق المصالح فإن الشريعة إنما جاءت بجلب المصالح ودرء المفاسد فكل ما نهت عنه الشريعة فهو مفسدة وإبعاده من الأمور المرغب فيها شرعا، وكل أمر أمرت به الشريعة فإنه مصلحة للعباد وفيه تحقيق لما فيه الخير والسعادة. ولذلك فالعمل بطريقة الشرع يترتب عليه تحقيق المصالح ودرء المفاسد.</h3>
<h3>الثالث: أن وجود بعض المخالفات الجزئية قد يكون سببا من أسباب صد الناس عن الخير الكثير في مثل هذه المشاريع العظيمة ومثال هذا مثل الثوب النظيف الناصع إذا وجدت فيه أدنى خطة قلم فإن الناس يتفادونه ولا يلبسونه وهكذا أيضا في مثل هذه المشاريع الطيبة. ومما يتعلق بهذا ما ذكره الأخ أبو سالم من جهة الاختلاط فإن الاختلاط إذا نظر الإنسان فيه وجد فيه من المفاسد الشيء الكثير، فمن نظر في أحوال تلك الجامعات وتلك المدارس المختلطة وجد شرورا عظيمة فيها درءها الله عز وجل عنا بتبني حكومة الملك عبدالله سياسة عدم الاختلاط في التعليم وإذا نظرنا في الجامعات المختلطة وجدنا من المفاسد الشيء الكثير فهناك مثلا تحرش جنسي نجد أن بعض ضعاف النفوس يتحرشون بالنساء سواء في المكاتب أو في قاعات الدراسة أو في المصاعد أو في الممرات ومثل هذا يؤثر على نفسيات النساء ويجعل الجامعة تبتعد عن هدفها الأساس .</h3>
<h3>ثم إن الاختلاط يؤدي إلى مفسده أخرى بجعل الرجال ينظرون إلى النساء والنساء إلى الرجال فتشتعل قلوبهم بذلك عن الهدف الأساس الذي قدموا له وأنشئت الجامعات ودور التعليم من أجله ألا وهو التعليم.</h3>
<h3>ثم أنه يترتب عليه أيضا مفاسد من اشتغال قلوب أولياء أمور الطالبات وأزواجهم وكذلك نساء الرجال عندما يذهب زوجها إلى مثل هذه الجامعة أي جامعة مختلطة فإن المرأة تبقى متحيرة نفسيتها متردده وتبدأ تشك في أي تصرف يقوم به زوجها وبعد أن يفد إليها يريد الراحة والسكن يجدها مشتغلة القلب فلا تمكنه من مراده ويترتب على ذلك الشيء الكثير وقد يترتب عليه مفاسد طلاق ومفاسد نزاعات أسرية وخلافات وشقاق.</h3>
<h3>ثم أيضا من مفاسد الاختلاط ما يحصل من الابتزاز واستغلال حاجات الطلاب والطالبات ويحصل ابتزاز الآن في الهواتف بأمور أقل من هذا فإذا كان أحد الجنسين يمسك أمرا مهما من أمور الجنس الآخر فإنه قد يبتزه ويجعله يقدم على أفعال لا يرغبها ولا يريدها وهذا مشاهد في بعض دور التعليم التي أنشئت على الاختلاط ثم يترتب على ذلك أيضا مفسدة اغتصاب وجبر النساء على ما لا يردنه في مثل هذا الأمر ونحن نشاهد هذا في الكثير من الدول وإذا كانت المرأة العفيفة في بيتها قد أغلقت أبوابها ولم تتكلم مع أحد يقوم ضعاف القلوب بالقفز عليهن والاعتداء على شرفهن فكيف في الدور المختلطة ومن هنا فإن الاختلاط مفسدته عظيمة وشره كبير. وأنا ما تحدثت بمثل هذا إلا من المحبة العظيمة لمقام خادم الحرمين الشريفين الملك عبدالله الذي له منزلة عالية في القلوب لما قدمه للأمة من خدمات عظيمة جليلة شكرها كل مؤمن في مشارق الأرض ومغاربها.</h3>
<h3>وكذلك أيضا رغبت أن تكون هذه الأهداف السامية التي سعى إليها المقام الكريم محققة على أعلى درجات التحقق بحيث لا يكون هناك ما يخدش فيها ولا أن يكون فيها ما يكون مؤثرا على هذا الهدف العظيم، ثم إن هذه الجامعة نريد أن تكون على أعلى الدرجات وأن تخدم الأمة وأن تحقق الأهداف العظيمة التي سعى إليها بتأليف هذه الجامعة وإنشائها ورغبة في قيام الجامعة بهذه الأهداف العظيمة النبيلة تكلمت ما تكلمت به وأسأل الله جلا وعلا أن ينفع بهذه الجامعة وأن يجعلها من أسباب الهدى والخير والصلاح.</h3>
<h3>وفي هذا المقام إني أحث كل من كان لديه قدرة على المساهمة في هذه الجامعة أن يحتسب للأجر في المساهمة فيها سواء كان بتقديم علم أو بتقديم خدمات فنية أو إدارية أو غير ذلك فإن هذا من القربات لأن الجامعة أنشئت على هدف نبيل ولذلك السعي للمساهمة فيها بكل ما نستطيع قربة. ومن ذلك محاولة إبعاد كل ما يكون مسيئاً إليها من سمعة أو كلام أو نحو ذلك وكذلك محاولة ابعاد كل تصرف يقوم به بعض المسؤلين في الجامعة والتي نظن أن مقام خادم الحرمين الشريفين عبدالله لا يرضى به فإننا قد سمعنا تلك المقالة الجميلة التي قالها وفقه الله قبل العام في انتقاد الصحف والقائمين عليها بنشر صور النساء فهذا يدلنا على أن مثل هذه التصرفات ليست صادرة من خادم الحرمين الشريفين وإنما هي من بعض المسؤلين وولي الأمر يسعى إلى خير هذه البلاد ويسعى فيما يحقق المصلحة وما يحقق رفعة شأن هذه الأمة الإسلامية وجعل الأمم الأخرى تستفيد منها بحيث تكون مصدرا للعلم لا مجرد مستقبل له.</h3>
<p>transkrip &gt;&gt;&gt;</p>
<p>http://www.alshathri.net/</p>
<p>* <strong>Syaikh Dr. Sa&#8217;ad bin Nashir Asy-Syitsri</strong> merupakan ulama besar Saudi Arabia, dosen Universitas Muhammad ibn Su&#8217;ud Riyadh, Universitas Al-Malik As-Su&#8217;ud, dan Knowledge International University (KIU). Beliau juga pernah menjadi anggota <em>Hai&#8217;ah Kibarul Ulama </em>Saudi Arabia<em>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/kaust-kampus-ikhtilath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Iedul Adha Masjidil Haram, Syaikh Su&#8217;ud Syuraim 10 Dzulhijjah 1432 / 6 November 2011 M ::: خطبة عيد الأضحى المبارك من الحرم المكي الشيخ سعود الشريم &#8211; حفظه الله</title>
		<link>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-makkah/iedul-adha-syuraim-1432-2011/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-makkah/iedul-adha-syuraim-1432-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 08:38:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[Asy-Syuraim]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Iedul Adha]]></category>
		<category><![CDATA[Masjidil Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Su'ud Syuraim]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[November 6, 2011. A very beautiful Ied Khutbah by Sheikh Shuraim. Khutbah was very emotional.
خطبة عيد الأضحى المبارك من الحرم المكي
الشيخ سعود الشريم - حفظه الله
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini, video rekaman khutbah Syaikh Su&#8217;ud Syuraim, di hari raya Iedul Adha, Ahad 10 Dzulhijjah 1432 / 6 November 2011 M, di Masjidil Haram Makkkah Al-Mukarramah Saudi Arabia.</p>
<p>Khutbah benar-benar sangat menyentuh sejak detik-detik pertama.</p>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">خطبة عيد الأضحى المبارك من الحرم المكي<br />
الشيخ سعود الشريم &#8211; حفظه الله <span id="more-421"></span></span></h3>
<div style="text-align: center;"><object id="player" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><param name="flashvars" value="config=http://www.mashahd.net/fpjs/3292b7577e2570a775f?embed=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="AllowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><embed id="player" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="config=http://www.mashahd.net/fpjs/3292b7577e2570a775f?embed=1" data="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf"></embed></object></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-makkah/iedul-adha-syuraim-1432-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Arafah, Mufti Saudi :: خطبة عرفة من مسجد نمرة التي القاها سماحة الشيخ عبدالعزيز آل الشيخ مفتي عام المملكة العربية السعودية سلمه الله&#124; السبت 9-12-1432</title>
		<link>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-arafah-1432-2011/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-arafah-1432-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2011 15:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khutbah]]></category>
		<category><![CDATA[Khutbah Arafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Khutbah Arafah, Sabtu 9 Dzulhijjah 1432 / 5 November 2011 M oleh Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh. Silakan simak rekaman videonya berikut ini: خطبة عرفة من مسجد نمرة &#124; السبت 9-12-1432]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Khutbah Arafah, Sabtu 9 Dzulhijjah 1432 / 5 November 2011 M oleh Mufti Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy-Syaikh. Silakan simak rekaman videonya berikut ini:</p>
<div id="fw-sort">
<div>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">خطبة عرفة من مسجد نمرة | السبت 9-12-1432</span></h3>
</div>
</div>
<p style="text-align: center;"><span id="more-412"></span></p>
<div style="text-align: center;"><object id="player" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><param name="flashvars" value="config=http://www.mashahd.net/fpjs/06294d635b59fc1f364?embed=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="AllowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><embed id="player" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="config=http://www.mashahd.net/fpjs/06294d635b59fc1f364?embed=1" data="http://www.mashahd.net/fplayer/fp.base.swf"></embed></object></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/khutbah/khutbah-arafah-1432-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambar Makhluk Hidup untuk Pengajaran</title>
		<link>http://al-ashree.com/artikel/gambar-makhluk-hidup-untuk-pengajaran/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/artikel/gambar-makhluk-hidup-untuk-pengajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 22:33:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Gambar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal ini dibolehkan akan menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat tashwir (membuat gambar) di jiwa para pelajar. Sehingga mereka akan meniru perbuatan tersebut yang berakibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Asy-Syaikh Muqbil <em>rahimahullahu</em> berkata:</p>
<blockquote><p>“Pendapat yang membolehkan gambar untuk kepentingan pengajaran  tidaklah ada dalilnya. Bahkan hadits tentang dilaknatnya tukang gambar  yang telah lewat penyebutannya sudah meliputi hal ini. Dan juga bila hal  ini dibolehkan akan <span style="color: #ff0000;"><strong>menumbuhkan sikap meremehkan perbuatan maksiat <em>tashwir</em> </strong></span>(membuat gambar) di jiwa para pelajar. <span id="more-405"></span>Sehingga mereka akan meniru  perbuatan tersebut yang berakibat mereka <span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #ff0000;">bersiap-siap menghadapi laknat  Allah bila mereka belum baligh dan mereka dilaknat bila sudah baligh</span></span>.  Mereka akan menolong perbuatan maksiat bahkan akan membelanya. Bila  demikian, di manakah rasa tanggung jawab (para pendidik)? Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda:</p>
<p>كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>
<p><em>“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” *</em></p>
</blockquote>
<p>&#8212;-</p>
<p>* dari <strong><em>Hukmut Tashwir Dzawatil Arwa</em></strong>h, Syaikh Muqbil bin Hadi <em>rahimahullah</em>. Adapun teks terjemah, kami mengambil faidah dari hasil terjemah Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa <em>hafizhahallah</em> di majalah Asy-Syariah.</p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/artikel/gambar-makhluk-hidup-untuk-pengajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tegakkan Bangunanmu Di Atas Ketakwaan!</title>
		<link>http://al-ashree.com/artikel/bangunan-takw/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/artikel/bangunan-takw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 22:09:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[takwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah ayat yang sangat menarik dan patut untuk direnungkan. Allah ta&#8217;ala berfirman (yang artinya), “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah-belah antara orang-orang mukmin serta menunggu (mempersiapkan) kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Sebuah ayat yang sangat menarik dan patut untuk direnungkan. Allah <em>ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya), <em> </em></p>
<blockquote><p><em>“Dan  (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan  masjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk  kekafiran dan untuk memecah-belah antara orang-orang mukmin serta  menunggu (mempersiapkan) kedatangan orang-orang yang telah memerangi  Allah dan rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, &#8216;Kami  tidak menghendaki selain kebaikan&#8217;. Dan Allah menjadi saksi bahwa  sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).“</em> (<strong>QS. at-Taubah: 107</strong>)</p></blockquote>
<p><span id="more-402"></span></p>
<p>Kemudian, Allah melanjutkan firman-Nya (yang artinya),</p>
<blockquote><p><em>“Janganlah  kamu sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang  didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu  sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan  diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 108</strong>)</p></blockquote>
<p><em>Pembaca yang dimuliakan</em>,  ayat ini banyak menyimpan hikmah dan pelajaran bagi kaum beriman.  Pelajaran mengenai betapa pentingnya ketakwaan dan kelurusan hati dalam  pengabdian kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Bukan sekedar penampilan fisik  saja, akan tetapi kesalihan lahiriyah yang dibarengi dengan kesalihan  batiniyah. Seperti kasus Masjid Dhirar yang dikisahkan di dalam ayat di  atas.</p>
<p>Tidak ada yang meragukan bahwa membangun masjid adalah sebuah <strong>amalan yang sangat agung</strong>. Karena ia menjadi sarana penghambaan kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. Akan tetapi tatkala amalan yang besar ini tidak diiringi dengan keikhlasan niat, maka ia justru berubah menjadi <strong>bencana bagi pelakunya dan juga musibah bagi kaum muslimin di sekitarnya</strong>.  Lihatlah, bagaimana teguran yang Allah berikan kepada Nabi-Nya agar  tidak sholat di dalam masjid semacam itu&#8230; Allah tegaskan (yang  artinya), “<em>Janganlah kamu sholat dalam masjid itu selama-lamanya&#8230;” </em>(<strong>QS. at-Taubah: 108</strong>)</p>
<p>Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> telah menyebutkan faidah ini di dalam tafsirnya <em>Taisir al-Karim ar-Rahman</em>. Beliau berkata,</p>
<blockquote><p><em>“Suatu  amalan, meskipun tergolong amalan yang utama akan bisa berubah  statusnya gara-gara niat, sehingga ia justru berbalik menjadi sesuatu  yang dilarang. Hal itu sebagaimana niat para pembangun Masjid Dhirar  mengubah status amalan mereka menjadi sebagaimana yang bisa anda  saksikan sendiri.”</em> (<em>Taisir</em>, hal. 352)</p></blockquote>
<p><strong>Masjid Tanpa Takwa?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Allah  menyebut masjid yang dibangun oleh orang-orang munafik sebagai masjid  yang tidak berlandaskan ketakwaan. Bahkan, Allah menggambarkan keadaan  masjid itu bersama para penggagas serta pembangunnya dengan firman-Nya  (yang artinya), <em>“Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan  (masjid)-nya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu yang  baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya <strong>di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam</strong>?&#8230;”</em> (<strong>QS. at-Taubah: 109</strong>)</p>
<p>Hal  ini menunjukkan kepada kita bahwa amalan fisik [yang secara lahiriyah  tampak sebagai kebaikan, pen] yang berangkat dari kedurhakaan kepada  Allah -secara batin- maka ia akan senantiasa membuat pelakunya <strong>bertambah jauh dari Allah</strong>.  Sebagaimana keadaan yang menimpa orang yang terus-menerus berkubang  dalam kemaksiatan/dosa sampai dia menyingkirkan dosa itu dan bertaubat  kepada Allah dengan sebenar-benarnya, sehingga hatinya dipenuhi dengan  penyesalan atas dosa yang telah dia lakukan selama ini (lihat <em>Taisir</em>, hal. 352)</p>
<p>Semestinya  tatkala kita ingin mendirikan sebuah bangunan fisik (masjid, sekolah  islam, dsb) atau bangunan non-fisik (organisasi, yayasan, dsb) hendaknya  kita senantiasa memeriksa niat dan memantau keikhlasan hati serta  berusaha sekuat tenaga mengikuti Sunnah Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>.  Karena setinggi dan semegah apa pun &#8216;bangunan&#8217; kita, jika tidak  dilandasi dengan takwa, apalah artinya? Apa gunanya ketenaran, kedudukan  dunia, materi, banyaknya anggota, melimpahnya aset organisasi, jika  tidak dibarengi dengan kesucian hati&#8230;?!</p>
<p><strong>Ikhlas dan Mutaba&#8217;ah</strong></p>
<p>Ayat di atas juga memberikan pelajaran kepada kita, bahwa amalan yang dibangun di atas keikhlasan dan <em>mutaba&#8217;ah</em> (kesetiaan terhadap tuntunan Nabi) itulah amalan yang dibangun di atas  ketakwaan, yang akan mengantarkan pelakunya menuju Surga yang penuh  dengan kenikmatan. Adapun amalan yang digerakkan oleh niat buruk dan  berlandaskan kebid&#8217;ahan atau kesesatan maka itulah amalan yang dibangun  di tepi jurang yang runtuh yang akan mengantarkan pelakunya terjerumus  ke dalam Neraka Jahannam (lihat <em>Taisir</em>, hal. 352)</p>
<p>Dari  sinilah letak pentingnya menjaga niat dan senantiasa mengoreksi  gerak-gerik hati, selain juga pentingnya komitmen yang kuat untuk tetap  teguh memegang ajaran Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Rasul <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Sesungguhnya setiap amal pasti dibarengi niat. Dan setiap orang akan diberikan balasan sesuai dengan niatnya.”</em> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>). Sebagaimana beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga telah menegaskan, <em>“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, pasti akan tertolak.”</em> (<strong>HR. Muslim</strong>).</p>
<p>Ini  artinya, ketakwaan bukan diukur dari sisi batin saja, akan tetapi ia  juga memiliki batasan lahiriyah yang harus diikuti. Karena apa yang ada  di dalam hati pasti akan tercermin pada apa yang tampak berupa ucapan  maupun perbuatan. Sehingga, sangat tidak benar sikap &#8216;toleransi&#8217;  kebablasan yang membenarkan semua tindakan selama niatnya adalah baik  dan untuk kebaikan. Tidakkah kita ingat ucapan Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em>, <em>“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi tidak berhasil menepatinya.”</em></p>
<p><strong>Pengaruh Ketaatan dan Kemaksiatan</strong></p>
<p>Ada pelajaran lain yang juga sangat penting. Syaikh as-Sa&#8217;di <em>rahimahullah</em> menjelaskan, <em>“Ini  menunjukkan pula bahwa perbuatan maksiat itu bisa mempengaruhi suatu  tempat. Sebagaimana halnya kemaksiatan orang-orang munafik memberikan  dampak negatif kepada Masjid Dhirar dan menyebabkan terlarangnya sholat  di dalam masjid itu. Demikian pula ketaatan akan mempengaruhi  tempat-tempat, seperti halnya ia telah memberikan dampak positif bagi  Masjid Quba -yang ia ditegakkan di atas ketakwaan, pen-&#8230;”</em> (<em>Taisir</em>, hal. 352)</p>
<p>Barangsiapa  yang ingin menciptakan sebuah lingkungan yang baik dan nyaman (rumah,  kos, dsb), maka tidak ada cara lain kecuali dengan menjaganya dari  segala bentuk kemaksiatan.</p>
<p><strong>Kaidah Penting</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yang  lebih menakjubkan lagi dari penjelasan Syaikh as-Sa&#8217;di, ada 4 pedoman  penting yang bisa dipetik dari ayat ini, yaitu: Segala tindakan yang [1]  <strong>membahayakan</strong> diri seorang muslim, atau [2] mengandung unsur <strong>kemaksiatan</strong> kepada Allah, atau [3] memiliki dampak <strong>perpecahan</strong> di antara kaum mukminin, atau [4] memberikan <strong>sokongan kepada orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya</strong>, maka tindakan tersebut diharamkan dan harus dicegah (lihat <em>Taisir</em>, hal. 352)</p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p>* copas dari catatan facebook mas Abu Mushlih Ari Wahyudi.<br />
<a href="http://www.facebook.com/notes/abu-mushlih-ari-wahyudi/tegakkan-bangunanmu-di-atas-ketakwaan/10150323126506123">http://www.facebook.com/notes/abu-mushlih-ari-wahyudi/tegakkan-bangunanmu-di-atas-ketakwaan/10150323126506123</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/artikel/bangunan-takw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Conversation with the Wife of Muhaddith Shaykh Al-Albaani</title>
		<link>http://al-ashree.com/artikel/wife-al-albani/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/artikel/wife-al-albani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 01:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[Could you tell us your name and place of birth?” Yusraa Abdur-Rahmaan Aabideen, Umm al-Fadl. Place of birth: Salt [Jordan], and on the birth certificate it mentions Jerusalem, 1929. “O Khaalah [lit: maternal aunt/aunty], could you tell us about your upbringing up until the time you married the Shaikh, may Allaah have mercy on him?” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://al-ashree.com/wp-content/uploads/2011/07/Assalamualaikum.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-391" title="Assalamu'alaikum" src="http://al-ashree.com/wp-content/uploads/2011/07/Assalamualaikum.gif" alt="" width="505" height="163" /></a></p>
<p>Could you tell us your name and place of birth?”</p>
<p>Yusraa Abdur-Rahmaan Aabideen, Umm al-Fadl.</p>
<p>Place of birth: Salt [Jordan], and on the birth certificate it mentions Jerusalem, 1929.<span id="more-390"></span></p>
<p>“O <em>Khaalah</em> [lit: maternal  aunt/aunty], could you tell us about your upbringing up   until the time  you married the Shaikh, may Allaah have mercy on him?”</p>
<p>I   grew up in Jerusalem, in the area of the Al-Aqsa Mosque. My father    worked as a trader, but I never knew him, for he died when I was still    young. So I was raised by my brother, Nadhmee, may Allaah have mercy on    him.</p>
<p>I remained in Jerusalem until 1948, after which I moved  for  good to  Jordan. The Shaikh, may Allaah have mercy on him, proposed  to  me in  1981. I used to live in North Marca, so he took me to South   Marca, a  place I had wanted to get to know more about, so the Shaikh   caused me to  settle there, may Allaah the Most High have mercy on him.</p>
<p>The   Shaikh married his first wife, Umm Abdur-Rahmaan in Damascus, she  was   Yugoslavian. And she gave birth to Abdur-Rahmaan, Abdul-Lateef and    Abdur-Razzaaq, and others [too] who Allaah caused to pass away. Then she    too passed away.</p>
<p>The Shaikh then married his second wife,   Naajiyah, she was also  Yugoslavian. He had nine children with her, four   boys and five girls.  The boys were: Abdul-Musowwir, Abdul-A’laa,   Muhammad and Abdul-Muhaimin.  The girls: Aneesah, Aasiyah, Salaamah,   Hassaanah and Sukainah.</p>
<p>He married the third while he had been   married to the second for  about two years. Her name is Khadijah   al-Qaadiri and she is Syrian. She  is the sister of Dr. Muhammad Ameen   al-Misri’s wife, may Allaah have  mercy on him, the well-known teacher   at the Islamic University of  Madinah, and a friend of the Shaikh, may   Allaah have mercy on them both.</p>
<p>The Shaikh had one daughter from   his wife Khadijah, Hibatullaah. And  he divorced his second wife who he   used to live with in the Yarmouk Camp  in Damascus.</p>
<p>Then he   migrated with Khadijah to Jordan in 1980 and settled in South  Marca,   Amman, close to Shaikh Ahmad Atiyah who was from the closest of  people   to the Shaikh. [But] then Ahmad Atiyah separated himself from  Shaikh   al-Albaani and his methodology, and became a Sufi, and then he  embraced   Baha’ism. We ask Allaah for well-being.</p>
<p>His third wife, Khadijah   only stayed in Amman for a short while after  which she moved to   Damascus and refused to reside in Amman. After  approximately six   months, the Shaikh sent divorce papers to her and she  returned their   joint-passport which was with her to him.</p>
<p>Ahmad Atiyah, along with   his cousin, Shaikh Jameel, came to South  Marca to my brother’s shop   and asked him for my hand in marriage [on  behalf of the Shaikh] in   1981.</p>
<p>We finalised the marriage contract [i.e., the <em>nikaah</em>],   in my  cousin’s house in Marca. The Shaikh stipulated the dowry   himself! For  he informed us that this was the legislated [thing to   do]–i.e., that the  one proposing marriage stipulates that which he sees   fit so that the  dowry for his wife will be within his means, so he   gave me two hundred <em>dinaars</em> at that time. And he did not stipulate a delayed dowry, for that is not from the <em>Sunnah</em>.</p>
<p>I   went with him to the market and we bought some non-circular gold  with   the dowry, since he did not hold it to be permissible to wear   circular  gold.</p>
<p>We agreed to get married [i.e., that she would go  and live  with him]  after about two months after the Shaikh would  finish building  his new  house in South Marca. We got married half way  through the  blessed month  of Ramadaan.</p>
<p><strong>Did he help his Family or Neglect them due to his Teaching?</strong></p>
<p>“Can you, O <em>Khaalah</em>, tell us briefly about the times the Shaikh had to relocate?”</p>
<p>The   Shaikh emigrated from Albania with his father to Damascus when he  was   about ten years old. He then emigrated to Jordan in 1980 and  settled  in  South Marca, Amman. Then he was compelled to go back to  Damascus  and  from there to Beirut, Lebanon, in 1981. Shaikh Zuhair   ash-Shaaweesh  hosted him there in his house. After that he travelled to   Sharjah and  stayed there for two months, calling to the <em>Salafi manhaj</em>.    After which he went to Qatar for one month, then Kuwait, staying  there   for ten days. Then Sharjah and from there back to Jordan where  he stayed   until he passed away on Saturday, 2/10/1999.</p>
<p>“Being the  wife of this noble  scholar, did you see that his knowledge,  seeking  knowledge and teaching  it to the people took away from his  coexistence  with you as the head of  your household? And did this have a  negative  effect on his children? And  my dear mother, can I ask you to  single me  out with some supplication  for I am in dire need of it. May  Allaah  protect you and give you good.”</p>
<p><em>Wa alaikum Salaam wa rahmatullaahi wa barakaatuhu</em></p>
<p>I   thank you for your warm sentiments and I want to let you know that    seeking knowledge would not prevent the Shaikh from carrying out any of    his family obligations.</p>
<p>Rather, the total opposite was true.</p>
<p>For he, may Allaah have mercy on him, was an exemplary head of a household, cooperating with his family.</p>
<p>And   believe me, my son, he used to help me a great deal in the  household   chores such that I would feel embarrassed in front of him due  to it.  So  much so that one time he was cleaning the patio with me, to  which I   said, ‘O Shaikh! Don’t disgrace me in front of the neighbours,  they   will say that you are doing your wife’s work.’ He replied, ‘This is  not   a disgrace. Don’t you know that the Prophet صلى الله عليه وسلم<em> </em>would be at the service of his family?’</p>
<p>When   I would ask him for anything [I needed] for the house, for  example,  an  extra shelf somewhere, he would assess the situation and  think  about  it and if he found that it was appropriate he would go ahead   with it  and do it with his own hands. And if he needed to go and buy   something  for it, he would do so in his car and then come back and do   what I had  requested of him.</p>
<p>One of his hobbies was to go on  trips, may  Allaah have mercy on him,  like Syrians do, the [picnic]  basket was  always in the car. We would go  together in spring, summer,  even winter,  looking at the snow and [the]  wintertime [landscape]. He  would  complement me by drinking tea and  coffee, even though it was not  his  habit to drink either of them.</p>
<p>But he would never leave his books on any outing we would go on. Books were his companions wherever he went.</p>
<p>In   fact, there were many times when I would wake up and would not see   him  on the bed. So I would look for him and find him in his study,   having  turned on the lamp, engrossed in his books. I’d be surprised and   he  would say, ‘These are my beloved!’ May Allaah have mercy on him.</p>
<p>May Allaah grant you succees, remove your distress and calamity and make you from those happy in this world and the Hereafter. <em>Aameen</em>.</p>
<p>&#8211;</p>
<p>&#8220;Someday   if you find  difficulty, so desperate and can&#8217;t go on..just turn to   Allah..ask Him  how to get over..and He will show you the way&#8230;&#8221;<strong> </strong></p>
<h3>يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ</h3>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>Translated by <a href="http://shaikhalbaani.wordpress.com"><strong>Ahmed Abu Turaab</strong></a> (</em><a href="http://shaikhalbaani.wordpress.com">http://shaikhalbaani.wordpress.com</a><em>)<br />
</em></p>
<p><em><strong> </strong></em></p>
<p><em>Chat Enhancer programmed by hajanet websolutions <strong>Chat Enhancer, Copyright, Jan Schroeder, Dueren 2011</strong></em></p>
<p><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p><strong>Repost from: FB&#8217;s note of </strong><em><strong> </strong></em><strong>Syed Nooruzzuha Barmawar</strong>, <em>May Allah reward him with something better</em>.<a href="http://www.facebook.com/snbarmawar"> http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150718998025032</a></p>
<p>.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Kunjungi pula situs kami di <a title="Toko Imam Muslim Ginanjar Indrajati Bintoro" href="http://imammuslim.com">www.imammuslim.com</a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/artikel/wife-al-albani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video: Syarah Lum’atul I’tiqad oleh Syaikh Dr. Khalid Al-Mushlih (2 / 24)</title>
		<link>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/khalid-lumah-2/</link>
		<comments>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/khalid-lumah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jul 2011 08:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ginanjar Indrajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Syaikh]]></category>
		<category><![CDATA[Asma' wa Shifat]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Khalid Al-Mushlih]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://al-ashree.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kami postingkan video rekaman dauroh Syarh Lum’atul I’tiqad, Al-Hadi ila Sabilir-Rasyad bagian II. Materi dauroh ini disampaikan oleh Syaikh Dr. Khalid Al-Mushlih -hafizhahullah-. Beliau merupakan salah satu murid senior sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin -rahimahullah- . Dr. Khalid juga merupakan guru dari salah seorang ustadz kita, Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi -hafizhahullah- [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini kami postingkan video rekaman dauroh <em><strong>Syarh Lum’atul I’tiqad, Al-Hadi ila Sabilir-Rasyad</strong></em> bagian <strong>II</strong>. Materi dauroh ini disampaikan oleh <strong>Syaikh Dr. Khalid Al-Mushlih</strong> -hafizhahullah-. Beliau merupakan salah satu murid senior sekaligus menantu <strong>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin</strong> -<em>rahimahullah</em>- . Dr. Khalid juga merupakan guru dari salah seorang ustadz kita, <strong>Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi</strong> -<em>hafizhahullah</em>- (<a href="http://abiubaidah.com/">abiubaidah.com</a>).<span id="more-378"></span></p>
<div id="fw-sort">
<div>
<h3 style="text-align: center;">شرح كتاب لمعة الاعتقاد (2) | د. خالد المصلح</h3>
</div>
</div>
<div style="text-align: center;"><object id="player" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="data" value="http://mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><param name="flashvars" value="config=http://mashahd.net/fpjs/77ad429b51e4e9333c4?embed=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><param name="AllowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" /><embed id="player" type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://mashahd.net/fplayer/fp.base.swf" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="config=http://mashahd.net/fpjs/77ad429b51e4e9333c4?embed=1" data="http://mashahd.net/fplayer/fp.base.swf"></embed></object></div>
<div style="text-align: left;"></div>
<blockquote>
<div style="text-align: left;">Kunjungi pula situs kami kami di</div>
<div style="text-align: left;"><a title="Ginanjar Indrajati Bintoro" href="http://imammuslim.com">www.imammuslim.com</a></div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://al-ashree.com/kajian-syaikh/khalid-lumah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
